Jakarta,KSPI- Ratusan perusahaan hengkang dari Karawang selama kurun waktu 2018 hingga 2022. Menurut Asosiasi Pengusaha tingginya upah disebut-sebut jadi penyebab utama eksodusnya pabrik-pabrik dari kawasan industri terbesar di Asia Tenggara itu.

Namun pakar hukum ketenagakerjaan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Hadi Subhan mempunyai pendapat yang berbeda, menurutnya bukan persoalan upah yang menjadi masalah utama ratusan perusahaan tersebut meninggalkan Karawang.

“Kenaikan upah bisa jadi hanya salah satu pertimbangan orang mendirikan perusahaan baru atau direlokasi ke tempat lain,” tutur Hadi yang dikutip dari kumparan, Selasa (21/6).Persoalan upah ini, kata Hadi, hanya jamak dialami industri yang notabene bergerak di bidang padat karya. Ini terjadi lantaran sebagian besar dari perusahaan tersebut memang tidak memiliki lokasi usaha permanen.

Adapun faktor lain yang justru lebih penting, menurut Hadi, adalah masalah kondusifitas ketenagakerjaan di suatu daerah. Masalah ini terjadi dari regulasi, perizinan hingga soal pungutan liar yang masih marak terjadi.
Menurut Hadi, regulasi ketenagakerjaan yang memberatkan, bakalan menjadi pertimbangan utama perusahaan untuk cabut. Soalnya, jika perusahaan memutuskan pindah ke daerah yang ketentuan upahnya lebih murah, kata Hadi, hal tersebut hanya akan berlangsung untuk sementara.

Belum lagi akan banyak masalah baru yang dihadapi perusahaan saat pindah. Sebagaimana yang tengah terjadi dengan perusahaan dari Karawang yang memilih eksodus ke Jawa Tengah.

“Ternyata tempat yang baru itu enggak mudah memobilisasi pekerjanya. Ternyata di tempat yang baru tidak mudah, ini harus jadi pertimbangan juga,” pungkasnya.

Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar juga mengamini hal senada. Sejumlah persoalan, disebut bisa menjadi penyebab utama hengkangnya perusahaan dari suatu daerah industri.

“Persoalan upah itu sebenarnya bukan menjadi alasan dasar untuk pindah. Persoalan seperti Karawang Bekasi sebenarnya bilateral cost-nya tinggi. Banyak pemain tentang outsourcing, limbah, catering, dan sebagainya. Jawara juga ada di sana, jadi harap pengusaha juga harus jujur soal itu,” tuturnya. (kump)

By kspi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *